Menurut Dewan Syariah Nasional dari MUI, Asuransi Syariah mempunyai arti sebagai usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan / atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah. Akad yang dimaksud adalah yang tidak mengandung gharar (penipuan), maysir (perjudian), riba, zhulm (penganiayaan), risywah (suap), barang haram, dan maksiat.

Dalam pengertian asuransi syariah tersebut, setidaknya ada 2 akad di dalamnya, yaitu:

  1. Akad tijarah, yaitu semua bentuk akad yang dilakukan untuk tujuan komersial. Dalam akad ini, perusahaan bertindak sebagai mudharib (pengelola) dan peserta bertindak sebagai shahibul mal (pemegang polis).
  2. Akad tabarru’, yaitu semua bentuk akad yang dilakukan dengan tujuan kebajikan dan tolong-menolong, bukan semata untuk tujuan komersial. Dalam akad ini, peserta memberikan hibah yang akan digunakan untuk menolong peserta lain yang terkena musibah.

Selengkapnya mengenai fatwa DSN-MUI Tentang pedoman umum asuransi syari’ah, silahkan baca disini.

2 thoughts on “Pengertian Asuransi Syariah Menurut DSN-MUI

  1. Klo hibah kan tidak ditentukan besarnya mas, setahu saya di pru syariah ditentukan nilai minimalnya? Gimana mas.?

    1. Dalam hukum Islam dan perdata di Indonesia, tidak ditentukan besaran hibah yang diperbolehkan. Jadi berapapun hibahnya, secara umum boleh-boleh saja. Jika ada persyaratan minimal atau maksimal, itu persyaratan khusus dari pengelola saja untuk memudahkan pengelolaan. Jadi klo ingin hibah dengan besaran di bawah minimal atau di atas besaran maksimal, tentu boleh-boleh saja namun tidak lewat pengelola tersebut; bisa dengan pengelola lain atau langsung ke penerima hibahnya.

Leave a Reply