Pada suatu hari, Ali datang ke rumah Toni dengan maksud mengajaknya untuk berbisnis. Setelah bersalaman & mengucap salam, perbincanganpun dimulai.

“Ton, ayo ikut bisnis dengan saya…!”, ajak Ali

Toni menjawab lantang, “Saya tidak mau.”

Kemudian Ali bertanya, “Kenapa?”

Saya takut kaya.“, jawab Toni.

Sontak Ali kaget & bergumam kok ternyata ada orang yang takut kaya. Ali merasa bahwa Toni sangat faham kalau menjalankan bisnis resikonya adalah menjadi orang kaya.

Lalu Ali bertanya, “Kenapa kamu takut kaya?”

“Saya takut hubbuddunya alias takut cinta kepada dunia”, jawab Toni mantap.

Dalam hati, Ali berujar, “Luar biasa kawan saya ini, ia orang yang sholeh. Ya Allah sesungguhnya orang sholeh seperti inilah yang harusnya kaya, karena kalau kekayaan dipegang sama orang-orang sholeh, insya Allah rahmatan lilalamin. Tapi sayangnya orang sholeh nya tidak mau kaya, sedangkan orang kayanya tidak mau sholeh.”

Kemudian Ali bertanya, “Apakah hubbudunya itu penyakitnya orang kaya saja?”

Jawab Toni, “Tidak. Orang miskinpun banyak yang menderita penyakit hubbudunya ini.”

Ali pun berkata, “Kalau begitu, masalahnya bukan di kaya atau miskinnya. Tapi bagaimana sikap kita terhadap harta.

Hikmah

Dengan alasan takut cinta dunia ini, banyak umat islam tidak mau bekerja & berusaha menjadi orang kaya. Bukankah sahabat Nabi SAW seperti Umar bin Khattab & Usman bin Affan adalah orang-orang kaya. Bukankan Nabi Sulaiman juga seorang yang terkaya di dunia.

Menjadi orang kaya bukanlah hal yang negatif. Justru dengan kekayaan, kita semua bisa menjadi orang yang dermawan, bisa menunaikan haji, bisa membangun panti asuhan, dll.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ، وَآنَاءَ النَّهَارِ، فَسَمِعَهُ جَارٌ لَهُ، فَقَالَ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُهْلِكُهُ فِي الحَقِّ، فَقَالَ رَجُلٌ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ

“Tidak ada (sifat) iri (yang terpuji) kecuali pada dua orang: seorang yang dipahamkan oleh Allah tentang al-Qur-an kemudian dia membacanya di waktu malam dan siang hari, lalu salah seorang tetangganya mendengarkan (bacaan al-Qur-an)nya dan berkata: “Duhai kiranya aku diberi (pemahaman al-Qur-an) seperti yang diberikan kepada si Fulan, sehingga aku bisa mengamalkan (membaca al-Qur-an) seperti yang diamalkannya. Dan seorang yang dilimpahkan oleh Allah baginya harta (yang berlimpah) kemudian dia membelanjakannya di (jalan) yang benar, lalu ada orang lain yang berkata: “Duhai kiranya aku diberi (kelebihan harta) seperti yang diberikan kepada si Fulan, sehingga aku bisa mengamalkan (bersedekah di jalan Allah) seperti yang diamalkannya.” (HR. Al-Bukhari).

Share Your Thought